ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

TIMELINE

Ini dia tanggal-tanggal penting yang perlu dicatat!
OLMAT UINSA 2017

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya kembali menyapa adik-adik semua dengan acara tahunannya yakni Olimpiade Matematika 2017. Olimpiade ini diselenggarakan untuk jenjang MI/SD islam, MTs/SMP Islam dan MA/SMA Islam. Seperti yang telah diketahui bahwa, olimpiade matematika ini merupakan salah satu acara terbesar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, dan perlu diketahui juga olimpiade matematika (olmat) tahun ini akan diselenggarakan se-Jawa, dengan 19 rayon (Surabaya, Probolinggo, Malang, Jember, Banyuwangi, Lamongan, Jombang, Kediri, Madiun, Pamekasan,Pasuruan, Bandung, Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Cirebon, Semarang dan Purwokerto) yang telah disiapkan untuk babak penyisihan, dan untuk babak semifinal maupun final diselenggarakan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

  • value="1" data-thickness=".2" class="skill1" tabindex="-1" readonly="readonly" style="width: 36px; height: 21px; position: absolute; vertical-align: middle; margin-top: 21px; margin-left: -50px; border: 0px none; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; font: bold 12px Arial; text-align: center; color: rgb(255, 255, 255); padding: 0px;" type="text">
    Pendaftaran

    01 April 2017 - 03 September 2017

  • value="2" data-thickness=".2" class="skill2" tabindex="-1" readonly="readonly" style="width: 36px; height: 21px; position: absolute; vertical-align: middle; margin-top: 21px; margin-left: -50px; border: 0px none; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; font: bold 12px Arial; text-align: center; color: rgb(255, 255, 255); padding: 0px;" type="text">
    Babak Penyisihan Rayon

    10 September 2017

  • value="3" data-thickness=".2" class="skill3" tabindex="-1" readonly="readonly" style="width: 36px; height: 21px; position: absolute; vertical-align: middle; margin-top: 21px; margin-left: -50px; border: 0px none; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; font: bold 12px Arial; text-align: center; color: rgb(255, 255, 255); padding: 0px;" type="text">
    Babak Semifinal

    16 September 2017

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • DARIMU UNTUKMU

    Ketika pertama bertemu pandagan senyum itu seolah tertuju padaku
    Jantung ini merespon membuatku salah tingkah
    Namun apa daya ketika peran utama bukanlah aku
    Aku hanya  penonton tak mungkin menggantikan
    Tapi salahkah mengharap lebih?
    Aku tak pantas berkata ini tapi hati memaksa
    Aku sudah berusaha tapi tak bisa
    Mata ini membuatmu masuk dalam hati
    Semakin lama semakin dalam
    Apa kau tahu?
    Kau tak pernah tau dan tak kan pernah tau
    Aku bahagia
    Memandangmu dari  jauh
    Meski senyum itu bukan padaku seolah padaku
    Hanya padaku seorang
    Andaikan bulan bisa berbicara
    Aku ingin dia sampaikan hatiku  padamu
    Meski lewat mimpi yang terlupakan
    Andai awan bisa berbicara
    Aku ingin dia bisikkan hatiku padamu
    Meski lewat angin lalu yang hilang tak berbekas
    Aku mencintai kekasih orang
    Yang masuk dalam hatiku
    Tak mau keluar tak mau berpindah
    Seolah hanya untukmu
    Darimu untukmu
  • LEMBARAN KUSAM

    Ku buka kembali lembaran kusam
    Bercampur tanah darah
    Tersimpan rapi di lubuk hati
    Tawa muncul tak di harapkan
    Masa indah tak terlupakan
    Juga tak ingin teringat
    Lembaran kusam terlihat  jelas
    Di antara cahaya mentari
    Sampai hari apa kuat
    Menahan emosi berat
    Apakah hanya sebuah bunga tidur
    Aku dapat menguburmu dalam

  • Cerita Cita-Citaku

    Sejak aku masuk Sekolah Dasar, aku sudah memiliki sebuah cita-cita. Cita-cita yang pertama kali aku miliki adalah menjadi seorang guru. Aku tidak tahu menjadi seorang guru adalah keinginanku sendiri atau karena melihat figur kedua orang tuaku yang menjadi seorang guru. Aku masih ingat ketika guruku menanyakan mengenai cita-cita untuk yang pertama kalinya.
    “Sekarang ibu mau bertanya, apa cita-cita kalian satu persatu!” seru Bu Yuli kepada murid yang sedang duduk dengan rapi di bangkunya masing-masing.
    “Ayo mulai dari kamu!” Bu Yuli menunjuk ke arah Lia yang duduk di depan deretan pertama.
    “Jadi dokter, bu!”
    “Jadi Polwan, bu!”
    “Jadi TNI, bu!”
    Semua anak menjawab dengan gembira dan bersemangat. Tetapi aku masih belum tahu apa yang menjadi cita-citaku. Sebuah profesi yang aku inginkan ketika aku besar nanti. Tiba giliranku untuk menjawab pertanyaan Bu Yuli.
    “Ayo Vita, apa cita-citamu?” tanya Bu Yuli lagi ketika aku terdiam untuk berfikir.
    “Ehm, jadi guru bu!” Entah dari mana aku bisa mengatakan jika aku ingin menjadi seorang guru, namun ku pikir itu tidaklah buruk.
    “Guru ya? Ternyata anakku ada juga yang punya cita-cita menjadi guru.” Ucap Bu Yuli sambil terseyum kecil.
    “Ayo Febri, apa cita-citamu?” Bu Yuli bertanya lagi pada anak yang lain.
    “Jadi Pramugari, bu!”
    “Guru ya? Ternyata anakku ada juga yang punya cita-cita menjadi guru.”. Kata-kata Bu Yuli itu terus terngiang di telingaku. Dan itu meyakinkanku untuk memiliki sebuah cita-cita yang sama dengan profesi kedua orang tuaku.
    Waktu terus berjalan, aku masih bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Aku terus memikirkan bagaimana aku bisa menjadi seorang guru sedangkan aku tak yakin karena aku bukanlah orang yang mampu bergaul dengan baik.
    Suasana di dalam rumah begitu sepi karena semua keluargaku tidak ada di rumah. Ayah dan Ibuku bekerja, sedangkan kakakku sekolah. Tinggal aku yang ada di rumah karena saat itu ada rapat guru dan sekolah di liburkan sehari.
    Tak ada yang bisa aku kerjakan selain menonton TV. Menonton sinema yang menjadi favoritku dan keluargaku. Awalnya aku tidak begitu peduli dengan jalan ceritanya, ya karena jalan cerita sinema Indonesia sangat mudah di tebak. Tetapi entah mengapa sinema itu cukup menarik perhatianku. Sinema itu bercerita tentang seseorang yang mengabdikan diri untuk menjadi seorang guru untuk anak jalanan.
    Sinema itu menjadikan hatiku bergetar dan ingin sekali menjadi seperti itu. Karena sinema itu, aku mempunyai keinginan untuk membangun sebuah sekolah untuk anak jalanan yang mana mereka tidak di pungut biaya sedikitpun baik gedung, SPP, seragam,ataupun buku. Yang mana di Indonesia masih banyak anak yang putus sekolah karena kemiskinan.
    Tapi darimana aku bisa dapat biaya untuk membangun sekolah itu? Pertanyaan itu mulai berputar di kepalaku. Apa cukup hanya menjadi seorang guru dapat membangun sebuah sekolah lengkap dengan fasilitasnya? Mungkin jika menjadi seorang dosen itu semua dapat terwujud. Lagipula jika menjadi dosen tidak perlu banyak menjelaskan seperti halnya menjadi guru. Sudah ku putuskan, aku ingin menjadi seorang dosen bukan lagi menjadi seorang guru agar keinginanku untuk membangun sekolah itu dapat terwujud.
    “Kamu ingin menjadi dosen jurusan apa?” tanya Ibuku saat aku bercerita ingin menjadi seorang dosen.
    “Gak tau.” Jawabku singkat. Aku tidak pernah tau jika untuk menjadi dosen harus memikirkan harus menjadi dosen jurusan tertentu.
    “Oh, lebih baik kamu menjadi dosen jurusan matematika. Karena matematika itu di butuhkan di masyarakat!”
    Aku hanya mengangguk pelan.
    Apa iya aku bisa menjadi seorang dosen jurusan matematika? Sedangkan kemampuanku menghitung tak begitu bagus. Aku hanya bisa mengerjakan soal-soal yang baru di terangkan, namun setelah beberapa tahun semuanya hilang. Atau lebih tepatnya kemampuan mengingatku buruk. Mungkin aku akan memikirkan lagi tentang menjadi dosen untuk jurusan apa.
    Saat aku menginjak kelas 8, di adakan sebuah tes untuk mengukur IQ dan mengetahui minat siswa. IQ ku tak buruk karena ternyata aku masuk ke dalam kategori yang cukup tinggi. Dan untuk minatku, tertulis jika minat tertinggiku jatuh pada menyelesaikan problem orang atau singkatnya seperti psikologi.
    Benar juga, aku memang suka sekali jika diminta mendengarkan masalah yang dimiliki teman-temanku. Apa lebih baik aku menjadi dosen untuk jurusan Psikologi? Lagi pula menjadi psikologi itu bukanlah hal yang buruk.
    “Vit, ini ada edaran untuk menjadi agen pulsa!” seru ayahku ketika aku sedang mengerjakan tugas PKN yang semua mengenai Undang-Undang, membuat kepalaku pusing. “Kamu mau? Jadi tabunganmu jangan di simpan tapi di buat modal ini.” Ayahku memanglah seorang guru, tetapi ayahku sangat berbakat dalam bidang bisnis.
    “Oh iya, mau yah!” Jawabku singkat sambil terus mengerjakan tugas.
    Ayahku benar-benar mendaftarkanku untuk menjadi agen pulsa. Katanya, jika uang tabunganku di masukkan dalam celengan itu tidak akan menambah jumlahnya. Kalau di jadikan modal seperti ini kita bisa mendapatkan untung atau singkatnya uang yang kita miliki bisa bertambah.
    Pertama kali menjadi agen pulsa, aku hanya menjual kepada keluargaku saja karena aku tidak berani menawarkan kepada teman-temanku. Tetapi semua berubah ketika temanku meminta tolong untuk membelikan pulsa karena jarak rumahnya yang jauh dari counter pulsa.
    “Oh, aku jualan pulsa kok!” seruku ketika Aida berhenti berbicara.
    “Lho kamu jualan ta, Vit?” tanyanya dengan nada yang cukup senang. “Yaudah aku beli ya 5000 di nomorku.”
    Aku mengangguk pasti.
    “Vit, kamu jualan pulsa ta?” tanya Fatus teman sebangkuku saat Aida pergi menjauh.
    “Iya.”
    “Kenapa gak ngomong dari dulu, tau gitu kan aku beli pulsa aja di kamu.”
    Aku hanya tersenyum kecut.
    Sejak saat itu teman-temanku tahu jika aku jualan pulsa dan beberapa dari mereka ada yang membeli pulsa kepadaku. Waktu pun terus berjalan hingga aku duduk di kelas 11. Aku tetap ingin membangun sebuah sekolah untuk anak jalanan dan tetap berjualan pulsa.
    Tetapi ada hal yang mengganjal cita-citaku. Saat aku membaca sebuah artikel di internet mengenai jurusan perguruan tinggi yang agak sulit untuk mendapatan pekerjaan, jurusan psikologi masuk ke dalamnya. Memang itu belum pasti, tetapi entah mengapa artikel itu sedikit membuatku ragu.
    Bagaimana jika benar, jurusan psikologi sulit untuk mendapatkan pekerjaan? Aku harus memikirkan ulang mengenai cita-citaku. Lagi-lagi aku pusing dengan pekerjaan yang cocok agar aku bisa membangun sekolah untuk anak jalanan itu.
    Hari ini adalah hari Sabtu, dimana hari yang biasa aku gunakan untuk menghilangkan penat dari pelajaran yang aku cerna dari hari Senin hingga Jumat. Aku menonton sebuah film Thailand yang di perankan oleh Pachara Chirathivat, aktor Thailand yang mulai terkenal dari film pertamanya Suckseed. Film kali ini berjudul “Top Secret The Billionaire”. Dan itu adalah kisah nyata dari seorang pengusaha muda.
    Film itu bercerita tentang TOP, seorang pengusaha muda yang sukses berbisnis saat usianya baru 19 tahun. Perjalanannya tak mudah, mulai dari di tipu orang hingga penyitaan rumahnya. Namun karena sifat pantang menyerahnya, dia mampu sukses dan makanan ringannya pun terjual hingga ke mancanegara termasuk Indonesia.
    Film itu sungguh menginspirasiku. Mungkin jika aku menjadi seorang pengusaha, aku bisa menjadi mewujudkan impianku membangun sekolah untuk anak jalanan. Iya, aku yakin itu. Tapi, aku harus memulai dari bisnis apa? Lagi dan lagi, hal itu yang selalu menjadi pengahalang besar impianku.
    “Permisi” ucap tetanggaku sambil membawa semangkuk pangsit yang terlihat menggiurkan, Tante Widi.
    Aku segera keluar dan mendatangi Tante Widi.
    “Ini pangsit yang akan di jual nanti, silahkan di coba.” Tante Widi memberikan mangkuk yang dibawanya.
    “Oh iya, tante. Terima kasih.” Aku mengambil mangkuk itu. “Gratis kan, tante?”
    “Iya gratis kok, tapi kalau mau nambah beli ya!” Jawab Tante Widi sambil tersenyum kecil kemudian berjalan menjauh dariku menuuju rumah tetanggaku yang lain.
    Belum ada satu bulan, warung Tante Widi cukup ramai dan bisa di bilang usahanya cukup sukses untuk seseorang yang baru memulai bisnisnya. Apa mungkin jika membuka warung makan, aku bisa memperoleh banyak keuntungan? Mungkin saja, lagipula banyak orang yang akan membutuhkan makanan dan minuman.
    Sudah aku putuskan jika aku akan membuka usaha warung makan. Mungkin bukan warung makan biasa. Aku akan membuka sebuah cafe. Cafe yang sukses hingga membuka cabang di seluruh Indonesia dan juga mancanegara. Lagipula banyak pengangguran di Indonesia yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Tapi, darimana aku mendapatkan modal untuk usahaku itu?
    Oh iya, aku sekarang masih menjadi agen pulsa. Mungkin keuntungan yang aku dapat bisa di tabung dan di jadikan modal usahaku itu. Tapi apakah cukup hanya dengan berjualan pulsa? Aku harus memikirkan ulang mengenai ini.
    “Tukang parkir itu gak bisa di anggap remeh. Masa iya penghasilannya melebihi gaji guru.” Kata ibuku tak habis pikir.
    “Iya bu, sekarang saja parkir 2000.” Sahut masku yang sedang memandangi laptopnya. “Nah kalau yang parkir ada 100, kan lumayan sudah dapat 200.000. Itu baru sehari.”
    “Lha iya, kalau di hitung-hitung ya sekitar 6.000.000 per bulan.” Ucap ibuku sambil berjalan menjauh ke arah dapur. “Iya kalau yang parkir hanya 100, kalau lebih?”
    Aku hanya terdiam mendengar pembicaraan ibuku dan masku.
    Aku masih tak habis pikir, tukang parkir saja bisa menghasilkan uang 6.000.000 per bulan. Aku salut dengan mereka. Apa iya aku harus membuka lahan parkir juga agar dapat membuka cafe dan membangun sebuah sekolah untuk anak jalanan? Tapi itu bisa di pikirkan.
    Penghasilan tukang parkir satu hari saja sudah lumayan banyak. Mungkin aku akan membuka lahan parkir di tempat strategis. Apalagi sekarang anak sekolah tidak boleh membawa kendaraan yang membutuhkan SIM dan bisa saja mereka parkir di luar sekolah. Itu membuat keuntungan yang lebih bagi tukang parkir.
    Tapi, biarlah waktu berjalan dulu. Mungkin aku harus memikirkan pelajaran-pelajaran yang harus aku cerna terlebih dahulu. Baru jika aku lulus SMA nanti, aku akan kembali memikirkan cara untuk membangun sebuah cafe dan sebuah sekolah untuk anak jalanan. Dan aku yakin aku bisa mewujudkan cita-citaku itu.
    The End.

    Apakah cerita  ini berakhir? Tidak, cita-citaku belum terwujud. Dan aku harus berhasil mewujudkan cita-citaku itu. Aku harus bisa menjadi orang yang berguna di dunia ini. Ya, aku pasti bisa. Tapi untuk sekarang, mungkin hanya ini yang bisa aku ceritakan.
  • Would you be my boyfriend? Part 1

    Komet duduk melamun di sebuah meja berbentuk lingkaran yang terletak di kantin. Kantin yang tidak terlalu luas namun terlihat rapi dan indah. Setiap bel istirahat berbunyi kantin itu selalu di penuhi oleh murid yang sekolah di Zeal Art School. Dan kali ini, bel istirahat telah berbunyi.
    “Komet, kamu kenapa?” Tanya Shasya sambil menyenggol badan sahabatnya itu.
    Komet hanya terdiam dan meletakkan kepalanya tepat di atas meja. Pandangannya kosong menatap pohon tinggi arah jam satu.
    Apa ada sesuatu yang terjadi padamu ?” tanya Shasya begitu perhatian.
    Tapi Komet tetap pada pandangan kosongnya.
    Komet adalah salah seorang siswa yang bersekolah di Zeal Art School. Tempat semua anak yang memiliki bakat seni. Komet masuk menjadi salah satu murid di Teater class bagian membuat cerita. Dia terbilang masih amatir, bakat yang di milikinya belum keluar sepenuhnya. Oleh karena itu, dia masuk dalam kelas B.
    Sedangkan Shasya adalah sahabat Komet sejak SMP yang selalu setia menemaninya setiap saat. Dia bersekolah di Zeal Art School jurusan Song Class bagian penyanyi solo. Dia terbilang sudah cukup mahir, bahkan dia sudah di rencanakan debut tahun ini padahal dia barulah anak kelas satu. Dia di masukkan dalam kelas A+ yang hanya dapat di isi oleh anak-anak yang memiliki bakat istimewa dalam bidangnya. Meskipun begitu, Shasya tetap setia menemani Komet.
    “Meteor…” teriak beberapa gadis saat melihat cowok yang baru memasuki kantin itu.
    Cowok yang di panggil dengan nama Meteor itu, berjalan mendekat ke arah kantin sembari memberikan senyum kecil di wajahnya. Rambutnya yang bergaya cepak membuat wajahnya terlihat keren. Apalagi lesung pipi yang di milikinya, sungguh mematikan.
    “Meteoooorrrr….” Terikan mereka semakin histeris saat Meteor melihatkan lesung pipinya.
    Meteor hanya menebarkan senyuman yang mematikan itu pada para gadis yang mengelu-elukan namanya. Meteor berhenti sesaat, melihat isi kantin yang nampaknya sudah penuh. Pandangannya berhenti peda meja Komet dan Shasya. Meteor tersenyum kecil penuh arti dan segera menuju bangku Komet dan Shasya.
    Meteor adalah seorang penyanyi yang sangat terkenal sampai ke internasional. Dia masuk ke Zeal Art School karena di mendapat janji manis dari Kepala Sekolah Zeal Art School. Dia bersekolah di sini tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun justru sebaliknya, sekolah yang memberi dia uang. Dia satu kelas dengan Shasya.
    “Excuse me girl, can I sit in here with you?” tanya Meteor dengan nada ramah sambil tetap mempertahankan senyumannya.
    “Yes, you can. I am very happy, if you want to sit in here.”sahut Shasya sekedar basa-basi sembari membalas senyuman Meteor.
    Sebenarnya Meteor mengerti bahasa Indonesia. Karena orang tuanya tinggal dan semua kerabatnya tinggal di Indonesia. Dia juga fasih mengucapkan bahasa Indonesia. Tapi dia sering menggunakan bahasa Inggris agar dia tidak kesulitan jika berbicara dengan fansnya di luar negeri.
    Sekarang, karena Meteor duduk satu meja dengan Komet dan Shasya, meja mereka menjadi pusat perhatian para gadis yang mengidolakan Meteor. Sungguh risih saat makan di lihat banyak orang, tapi tidak ada meja kosong lagi untuk di tempati.
    “Who is she?”Tanya Meteor sambil menatap tajam Komet.
    “She is my best friend, Komet..” Sahut Shasya sambil menyenggol kaki Komet yang sedang asyik dengan pandangannya itu dengan kakinya.
    “Ssstttzzz…sssstttzzz… Komet” bisik Shasya berusaha menyadarkan Komet sambil terus menyenggol kaki Komet.
    Sepertinya dia sedang asyik dengan pandangannya …”
    Shasya membalas dengan senyum paksaan.
    Meteor pun beranjak dari kursinya dan berdiri dengan kedua lututnya tepat di samping Komet.
    “Hei, cute girl…” bisik Meteor tepat di telinnga Komet.
    Sikap Meteor yang begitu pada Komet, jelas membuat idolanya menggigit jari menyaksikan kejadian itu. Shasya pun khawatir dengan Komet yang mendapat perlakuan seperti itu dari Meteor. Namun, Komet tetap asyik dalam lamunannya.
    ****
    Dalam Lamunan Komet…
    Komet terus berjalan menyusuri tempat yang sedikit asing baginya. Entah bagaimana dia bisa berada di tempat ini. Bahkan di sini tak ada seorang pun. Yang ada hanyalah pepohonan dan burung-burung yang beterbangan di langit yang berwarana kelabu.
    Tapi setelah cukup lama berjalan, tiba-tiba terlihat sebuah cahaya yang berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin jelas, dan semakin jelas. Tampak seorang pemuda dengan menunggangi kuda berwarna putih berjalan mendekat. Setelah cukup dekat dengan Komet, dia pun turun dari kuda itu.
    “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, nona?” tanya pemuda itu sambil mencium telapak tangan Komet.
    “A..aku tak tahu.”
    Pemuda itu hanya menebarkan senyum yang cukup mematikan pada Komet.
    “Kamu siapa?” tanya Komet bingung.
    Lagi-lagi pemuda itu hanya tersenyum.
    Pemuda itu kembali menunggangi kudanya dan pergi meninggalkan Komet seorang diri.
     “Hei, tunggu…” teriak Komet sambil berlari kecil mengejar pemuda itu.
    Pemuda itu pun pergi semakin jauh dan menghilang dalam kabut merah jambu.
    Komet terjatuh dan kelelahan karena mengejar pemuda itu.
    ****
    “AAAUUHH…”teriak Komet sambil memegangi kepalanya.
    Tiba-tiba dari arah belakang tampak sebuah bola basket menimpuk kepala Komet. Dan menyadarkan Komet dari lamunannnya. Karena teriakkan Komet yang cukup keras semua orang yang berada di kantin melihat ke arahnya.
    “Komet, apa kamu tak apa?”Tanya Shasya memastikan dengan sedikit khawatir.
    “Are you okey, girl?” Tanya Meteor yang berdiri di sampingnya.
    Komet menoleh kearah Meteor dengan wajah terkejut.
    “Mengapa kamu pergi begitu saja?” Tanya Komet spontan ketika melihat Meteor. Tapi karena sangat keras benturannya, kepala Komet menjadi pusing dan penglihatannya mulai kabur. Semakin lama semakin kabur dan menjadi gelap. Dan Komet jatuh ke badan Meteor.
    “Apa dia baik-baik saja?” Tanya seorang cowok yang tak sengaja melempar bola basket kearah Komet sehingga mengenai kepalanya. Ardan.
    Meteor tak peduli dengan perkataan Ardan dan berusaha meletakkan tubuh Komet di punggungnya.
     “Biar aku saja yang menggendongnya.” Kata Ardan menawarkan diri.
    “Tidak, biar aku saja.” Senggah Meteor sembari menatap tajam cowok itu.
    “Apa kamu bisa, Meteor ?” tanya Shasya cemas.
    Meteor hanya tersenyum kecil.
    Meteor segera menggendong Komet ke UKS. Sedangkan Shasya dan cowok yang melempar bola tadi mengikutinya dari belakang. Dengan penuh arti Meteor menggendong Komet yang tidak sadar itu.
    “Kamu tadi pergi kemana? Kenapa ninggalin aku begitu saja?”oceh Komet dalam gendongan Meteor antara sadar dan tidak.
    “Aku tak pergi kemana pun. Aku selali berada di sampingmu.” Jawab Meteor dengan santai.
    “Benarkah?”
    Meteor mengangguk pasti.
    Tetapi Komet kembali pingsan setelah mendapat jawaban dari Meteor yang melegakan dirinya.
    Meteor dengan sabar menggendong Komet dan sepanjang perjalanan Meteor tersenyum kecil.

    ****
  • IN THE MYSTERY DAY Part 1

    Aku tak tahu di mana aku sekarang ini . Saat ku buka mataku , ku sudah berada di ruang yang terlihat tak terawat . Ku pandangi sekeliling ruangan ini . Banyak sekali orang . Tapi yang mengherankan mengapa semua menggunakan baju berwarna putih . Entah sebenarya ada apa ini . Adakah sesuatu yang tidak aku ketahui . Dan ada seorang wanita menatapku tajam sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang . Itu membuatku mulai ketakutan .Walaupun banyak sekali orang di sini . Tapi aku tak melihat Mama , Papa dan Zika . Kemana mereka .
    “ Mama , Papa , Zika !! Teriakku memanggil mereka .
    Tapi tak ada satu pun jawaban .
    “ Ma .. “
    Tetap tak ada jawaban .
    “ Pa .. ”
    Hasilnyapun sama tak ada jawaban.
    “ Zika .. “
    Dan sepertinya sia sia aku memanggil mereka bertiga .
    Tak lama terdengar suara seseorang .
    “ Apa kau sudah siap untuk jaga malam ini ? “ Tanya pria satu ke pria lainnya .
    “ Ya , siap gak siap . “
    “ Aku dengar di Rumah Sakit ini banyak sekali hantu yang berkeliaran . “
    “ Mau bagaimana lagi . Itu lah resikonnya kerja di rumah sakit . “
    Sekarang aku mengerti aku sedang berada di rumah sakit .Tapi mengapa hanya aku sendiri ? Ke mana Mama , Papa , Zika ? Dan untuk apa aku berada di rumah sakit ?
    Tiba tiba aku teringat akan kejadian itu .
    ****
    Malam itu begitu sepi kendaraan yang melewati jalan Dr.Soetomo . Hanya suara hujan bersama petir yang terdengar menakutkan . Lampu penerang berwarna kuning tak begitu tampak karena derasnya hujan . Jarak pandang pun hanya sekitar lima meter .
    Malam ini , kami sekeluarga harus pulang setelah berlibur dari Rumah nenek di desa . Kami mngendarai mobil avanza berwarna hitam . Tapi entah mengapa Zika yang duduk dalam pangkuan mama , menangis tiada henti .Papa dan mama tampak begitu kebingungan menenanngkan Zika .
    “ Zika kenapa menangis ? “ Tanya mama .
    Tapi Zika tetap menangis , bahkan tangisannya lebih kencang dari sebelumnya .
     Zika mau apa ? Nanti papa belikan semua yang Zika mau ya .. “ bujuk Papa sambil menyetir .
    Biasanya Papa bilang seperti itu , tangis Zika mereda dan langsung menjawabnya . Tapi tampaknya itu tidak berhasil .
    Zika adalah adik perempuanku yang berusia empat tahun . Di bandingkan aku , Zika lah yang lebih di sayang . Mungkin itu karena dia masih balita , sedangkan aku sudah berusia enam belas tahun . Umur yang sudah dapat di katakan remaja .
    “ Zika , sudah dong , sayang ! Jangan nangis lagi .. “ kata mama yang sudah khabisan akal .
    “ Zika nanti sampai rumah , kita beli apa pun yang Zika inginkan ya . “ rayu papa lagi .
    “ Zika , nanti kakak izinin kamu main ke kamar kakak deh . Tapi kamu harus janji diam dulu ya “ bujuk ku .
    Sebenarnya malas sekali untuk membujuknya . Apalagi mengizinkan dia masuk kamarku . Terakhir Zika masuk ke kamarku , Semua buku catatanku di penuhi coretan tangan Zika baik yang sudah ada tulisannya maupun yang belum . Tapi aku juga kasihan sama mama dan papa yang dari tadi kebingungan menenangkan Zika .
    “ Dengarkan sayang . Kak Zeta ngizini Zika main di kamarnya . “
    Tapi tetap saja perkataan mama tak di gubris sama Zika . Justru tangisnya menjadi – jadi .
    “ Zika , nanti papa pasti …… “
    “ Papa , awas ada truk ..!!!!!! “ teriakku memotong pembicaraan ayah ketika memperhatikan ke arah jalan yang tertutup kabut .
    Papa segera mengendalikan setir
    “BRRRRAAAAAGGGGGHHHHHH….”

    ****
  • DUDUK BAWAH

    Ku berjalan menyusuri jalan sepiLampu remang-remang menemani
    Hembusan angin membuat begidik
    Di ujung terdengar rintihan
    Seorang anak kecil menangis kelaparan
    Berambut ikal merah tak terawat
    Kulit keriput terbakar matahari
    Badan kering menyisakan tulang belulang
    Sungguh menyedihkan
    Mereka yang duduk di atas terus membesarkan perut
    Tersenyum seolah tanpa beban
    Tak peduli dengan mereka yang duduk di bawah
    Mereka yang duduk di bawah terus bermandikan air mata
    Sedang mereka yang duduk di atas bermandikan uang
    Ohh Keadilan..
    Apa kau sedang tertidur ?
  • Diberdayakan oleh Blogger.
    - See more at: http://www.komputerseo.com/2010/12/cara-memasang-gambar-animasi-lucu-di.html#sthash.AVdlx4AU.dpuf

    Pengikut

    Translate

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    ScorpioSeven

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.